Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

THE ALL NEW CHIEF 2014 INDIAN MOTORCYCLE (Indonesian Coverege)



Banyak penggemar motor besar Amerika hanya tahu kalau motor besar Amerika adalah Harley Davidson ( HD), banyak orang tidak tahu kalau dahulu juga ada merk lain selain HD yaitu Indian.

Adalah Indian pada era perang dunia ke dua sampai dengan tahun 50an HD dan Indian merupakan dua brand motor kenamaan Amerika yang saling bersaing dalam penjualan produknya, tapi pada tahun 1953 Indian mengalami kebangkrutan hingga akhirnya tutup hingga menyisakan HD yang akhirnya mendominasi sebagai motor besar asli Amerika.

Indian Motorcycle Company sempat bangkit di tahun 1999 tapi bangkrut kembali tahun 2003 akibat minim nya penjualan. 2006 perusahaan ini dibeli oleh Stelican Group (sebuah perusahaan holding berbasis di London) yang akhir tetap memproduksi produk Indian yaitu” The Gilroy Chief “ atau disebut juga ”Chief“ tapi hanya untuk kalangan terbatas.

Tahun 2011 Polaries Industri  yang notabene adalah pemilik dari brand Victory Motorcycle membeli Indian Motorcycle Company, dan memindahkan pabriknya ke Iowa Amerika. Banyak pihak terutama penggemar motor Indian menunggu produk varian terbaru Indian.

Maret 2013 akhirnya Indian Motorcycle Company me-realese sebuah mesin yang dinamakan “Thunderstroke 111“ angka 111 adalah mengacu pada ukurannya yaitu 111 (1.811 cc) kubik inch, lebih besar dari pada varian produk “Chief” yang lama yang hanya 100 kubik inch (1.600 cc).

Motor yang akan di luncurkan awal tahun depan ini akan dinamakan “THE ALL NEW CHIEF” 2014 dan yang membuat para penggemar Indian penasaran adalah pihak Indian Motorcycle Company belum merealease bentuk atau wujud dari keseluruhan motornya, hanya gambar berbentuk sebuah produk motor Indian yang diselubungi bayangan hitam dan harga jualnya mulai dari $18.999. @argodidit

Senin, 21 Februari 2011

Safety by Standard atau safety by Budjet...?

Sebenarnya ini hanya sebuah akronim saja, tapi juga berarti sindiran bagi perusahaan yang tidak menerapkan safety (K3 / Keselamatan Kerja dan Kesehatan) secara standar kerja nasional (UU Pemerintah RI No. 1 1970) atau aturan dari beberapa departemen yang terkait sesuai bidang perusahaan itu jalani, atau peraturan yang berkaitan dengan resiko yang bakal dialami oleh pekerja dan lingkungannya.

Seringkali banyak perusahaan akibat terbatasnya bujet untuk alat K3 (terutama untuk PPE/Personal Protective Equipment) mereka beralih ke alat K3 yang tidak standar, sehingga akronim ini sering muncul ketika ditanya standar safety apa yang anda pakai? Apakah SII (Standar Industri Indonesia), ANSI (American National Standards Institute), CE (Conformité Européenne), ANZSIC (Australian New Zealand Standards Industrial Classification), atau bahkan JIS (Japan Industrial Standards). Yang jelas standar yang disebutkan oleh penulis memang sudah terkenal dalam patokan alat-alat yang dipakai dalam standar industri atau kerja di Indonesia.

Ini memang terjadi, walaupun si-pemakai (user) tahu kalau standar yang dipakai sama sekali tidak memenuhi sandar, tapi karena budjet memang minim, perusahaan sengaja “meng-cut” bujet K3, nah perusahaan dengan kebiasaan seperti ini sering diakronimkan dengan perusahaan “safety by budget”, walaupun memang tidak ada namanya standar dengan bujet (hanya akronim).

Bagaimana perusahaan dengan kategori “safety by standar”, perusahaan dengan kategori seperti ini tidak akan segan-segan dalam penggelontoran atau pendanaan untuk kegiatan safety mereka sesuai standar safety mereka, baik standar Negara asal (apabila perusahaan asing) ataupun standar nasional, tapi kebijakannya tergantung principal mereka, bahkan ada perusahaan nasional dengan standar safety asing, karena mereka memakai jasa sumber daya manusia ekspat (orang asing) atau pun karena mereka bekerja dilingkungan lingkup perusahaan asing, tapi ada juga bebarapa perusahaan local yang memang benar-benar sudah menerapkan K3 secara proporsional.

So, pilihan sebenarnya ditangan pemangku kebijakan pada perusahaan, apakah “safety equipment” yang akan dipakai hanya sekedar pemantas saja (agar kelihatan aman) atau memang K3 sudah menjadi habit serta kebiasaan perusahaan.

Argo Muhardito